DPPM Gelar Diskusi Peluang Hibab Riset Internasional

KALIURANG (DPPM UII) Upaya memperkuat kolaborasi riset dan inovasi di kawasan Asia Tenggara terus didorong melalui sosialisasi peluang pendanaan internasional. Pada hari ini, Rabu, 14 Oktober 2026, telah diselenggarakan sesi diskusi daring bertajuk Diskusi Peluang Hibah Riset Internasional – ASTIF Call 2026. Acara yang berlangsung pukul 08.00 hingga 09.30 WIB melalui platform Zoom Meeting ini menghadirkan Prof. Dr. Masdalina Pane selaku National COSTI Focal Point Indonesia dari Committee on Science, Technology and Innovation (COSTI) ASEAN sebagai narasumber utama.

Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kewirausahaan UII, Prof. Ir. Eko Siswoyo, ST., M.Sc.ES., Ph.D., IPU., membuka acara secara resmi. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya akselerasi keterlibatan akademisi dalam skema riset berskala global.

Prof. Dr. Masdalina Pane sendiri dalam pemaparannya menyampaikan panduan lengkap pengajuan proposal riset dan inovasi ASEAN Science, Technology and Innovation Fund (ASTIF) 2026. Program ini menjadi peluang emas bagi universitas maupun lembaga riset di wilayah ASEAN untuk mengembangkan kolaborasi riset berbasis Artificial Intelligence (AI) dan teknologi tinggi lainnya secara lintas sektor. Mengacu pada kerangka kerja strategis APASTI 2026–2035, fokus utama pendanaan ini mencakup pengembangan solusi AI lintas sektor, kolaborasi multinegara ASEAN, pemanfaatan infrastruktur bersama seperti supercomputer, serta penciptaan dampak nyata bagi kawasan regional.

Terdapat empat kategori prioritas yang ditawarkan, yaitu integrasi AI untuk kesehatan, bioekonomi, dan ketahanan pangan; AI untuk kecerdasan antariksa, bumi, laut, dan iklim; AI untuk material maju dan transisi energi; serta AI untuk produktivitas UMKM dan pengembangan tenaga kerja. ASTIF memberikan pendanaan untuk riset kolaboratif, pengujian demonstrasi teknologi (Proof of Concept), hingga penguatan sistem data bersama. Skema pengajuan proposal terbagi menjadi dua jalur utama, yakni Open Competitive Call Track yang terbuka untuk lembaga riset, perguruan tinggi, swasta, maupun NGO terdaftar, serta COSTI Sub-Committee Track yang diperuntukkan khusus bagi entitas focal point nasional.

Ketentuan kelayakan mengharuskan pemohon berupa institusi terdaftar secara legal, bukan perorangan, dengan keterlibatan minimal dua negara anggota ASEAN dalam satu tim proyek. Durasi pelaksanaan proyek dirancang maksimal selama 24 bulan tanpa batas nominal anggaran yang kaku, selama alokasi biaya disusun secara rasional. Komponen yang eligible mencakup biaya perjalanan, operasional staf riset baru, dan peralatan riset, sedangkan biaya publikasi jurnal serta gaji peneliti tetap tidak dapat didanai. Pengajuan proposal tahap awal berlangsung hingga pertengahan Oktober, diikuti evaluasi ketat sebelum pengumuman proyek terpilih pada pertengahan Februari mendatang. Melalui kegiatan sosialisasi ini, para peneliti Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan peluang pendanaan ASTIF Call 2026 secara optimal guna menciptakan inovasi berdampak luas di tingkat ASEAN.

Wied

(Foto: Widodo)

DPPM dan Kemendiktisaintek Gelar Workshop Penulisan Proposal Hibah Nasional:

Dorong Dosen Muda Menghasilkan Riset Berdampak

 

KALIURANG (DPPM UII) Direktorat Bina Talenta Penelitian dan Pengembangan, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bekerja sama dengan Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Workshop Penulisan Proposal Hibah Nasional untuk Dosen Muda dan Vokasi Tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Audiovisual Lantai 4 Fakultas Hukum UII pada Kamis (8/10) tersebut diikuti oleh dosen dari berbagai perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Workshop ini menjadi wadah penguatan kapasitas bagi dosen muda dalam menyusun proposal penelitian yang berkualitas, kompetitif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Tidak hanya berisi paparan materi, kegiatan juga dilengkapi dengan sesi pendampingan yang membantu peserta mengembangkan ide penelitian menjadi proposal yang lebih sistematis dan siap diajukan pada program pendanaan nasional.

Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Yohanes Eko Adi Prasetyanto, S.Si. dan Prof. apt. Enade Perdana Istyastono, S.F., M.Sc., Ph.D., yang membagikan pengalaman serta strategi menyusun proposal hibah penelitian nasional agar memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh pendanaan.

Dalam sambutannya, Prof. Dr.rer.pol. Heri Kuswanto, S.Si., M.Si. dari Kemendiktisaintek menegaskan bahwa workshop ini dirancang secara strategis untuk mendampingi para peneliti muda dalam meningkatkan kualitas proposal penelitian mereka. Menurutnya, salah satu tantangan yang masih sering dihadapi para pengusul adalah kemampuan menerjemahkan gagasan penelitian ke dalam proposal yang memenuhi standar pendanaan nasional.

Ia juga menyampaikan optimisme terhadap perkembangan ekosistem riset nasional, termasuk peluang peningkatan anggaran penelitian serta pembukaan periode Call for Proposal berikutnya yang direncanakan berlangsung pada bulan November. Melalui berbagai program unggulan yang dikelola Direktorat Bina Talenta, para dosen muda diharapkan mampu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menghasilkan penelitian yang berdampak luas.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kewirausahaan UII, Prof. Ir. Eko Siswoyo, S.T., M.Sc.ES., Ph.D., IPU., menekankan pentingnya kegiatan pendampingan seperti ini bagi dosen muda. Menurutnya, kesempatan memperoleh arahan langsung dari para fasilitator berpengalaman dapat membantu peserta memahami berbagai aspek penilaian proposal sekaligus meningkatkan peluang lolos seleksi pendanaan.

Ia mengingatkan peserta untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan sungguh-sungguh dan memperhatikan setiap ketentuan administratif. Hal-hal yang tampak sederhana, seperti batas jumlah kata, format penulisan, maupun kelengkapan dokumen pendukung, sering kali menjadi penyebab kegagalan proposal pada tahap seleksi administratif. Mewakili Rektor UII yang sedang menjalankan tugas di Jakarta, Prof. Eko secara resmi membuka kegiatan dan berharap para peserta dapat meraih pendanaan hibah pada periode mendatang.

Pada sesi materi pertama, Dr. Yohanes Eko Adi Prasetyanto memaparkan topik bertajuk Strategi Penyusunan Proposal Penelitian yang Sinkron dan Berdampak: Dari Reorientasi Peran Dosen hingga Penyelarasan Hibah BIMA. Ia menjelaskan bahwa paradigma pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi saat ini mengalami perubahan mendasar. Jika sebelumnya aktivitas pengajaran sering dipandang sebagai tugas utama dosen sementara penelitian dianggap pelengkap, kini penelitian justru menjadi fondasi utama dalam menghasilkan pengetahuan baru.

Menurutnya, perguruan tinggi tidak lagi cukup berfungsi sebagai institusi transfer pengetahuan, tetapi harus menjadi produsen pengetahuan melalui penelitian yang relevan dan berdampak. Temuan-temuan hasil riset kemudian diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran sehingga mahasiswa memperoleh wawasan yang lebih aktual dan berbasis bukti.

Perubahan tersebut sejalan dengan arah kebijakan Ditjen Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang menekankan konsep sains dan teknologi berdampak. Keberhasilan kebijakan ini antara lain diukur melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, serta meningkatnya peran perguruan tinggi Indonesia dalam berbagai indikator dampak global.

Dr. Yohanes menekankan bahwa salah satu kunci keberhasilan memperoleh hibah penelitian adalah sinkronisasi seluruh unsur proposal. Proposal yang baik tidak hanya memiliki ide menarik, tetapi juga memperlihatkan keterhubungan yang kuat antara rumusan masalah, tujuan penelitian, metodologi, kapasitas tim, anggaran, hingga referensi yang digunakan.

Menurutnya, ide penelitian harus menjadi pusat dari seluruh struktur proposal. Metodologi yang dipilih harus mampu menjawab masalah yang diangkat secara logis dan terukur. Selain itu, tim peneliti juga harus memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan penelitian. Sebagai contoh, penelitian yang mengembangkan media pembelajaran berbasis teknologi informasi seharusnya melibatkan anggota tim yang memiliki keahlian di bidang pemrograman atau teknologi komputer.

Ia juga menyoroti pentingnya kesesuaian antara rencana anggaran dan metodologi penelitian. Setiap komponen biaya harus memiliki keterkaitan yang jelas dengan aktivitas penelitian. Pos anggaran yang tidak memiliki landasan dalam metodologi sering kali menjadi perhatian penelaah dan berpotensi menurunkan kualitas proposal.

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah integrasi antara tinjauan pustaka, state of the art, dan roadmap penelitian. Tinjauan pustaka perlu menunjukkan posisi penelitian yang diusulkan dibandingkan penelitian sebelumnya, sekaligus menggambarkan rekam jejak peneliti serta arah pengembangan penelitian di masa depan.

Lebih lanjut, Dr. Yohanes mengingatkan bahwa pengembangan ide penelitian harus diselaraskan dengan prioritas pembangunan nasional. Bidang-bidang strategis seperti pangan, kesehatan, energi, maritim, pertahanan, kecerdasan buatan dan semikonduktor, manufaktur dan material maju, serta hilirisasi dan industrialisasi menjadi fokus utama dalam berbagai skema pendanaan riset nasional. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa hampir semua disiplin ilmu memiliki peluang untuk berkontribusi pada salah satu atau lebih bidang prioritas tersebut.

Dalam kesempatan itu, ia juga menguraikan tingginya tingkat persaingan pada pengajuan proposal melalui portal BIMA. Jumlah proposal yang masuk setiap tahun mencapai puluhan ribu, sementara banyak di antaranya gagal pada tahap seleksi administrasi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kualitas administratif memiliki peran yang sama pentingnya dengan kualitas substansi penelitian.

Karena itu, para pengusul disarankan tidak menunggu hingga batas akhir pengajuan. Pengunggahan proposal sejak jauh hari memberi kesempatan untuk melakukan pengecekan ulang sekaligus memperoleh masukan dari mentor maupun kolega sebelum proposal dikirimkan.

Sesi berikutnya disampaikan oleh Prof. Enade Perdana Istyastono yang mengangkat tema pengembangan roadmap penelitian dan strategi membangun karier riset bagi dosen pemula. Dalam paparannya, ia mengajak peserta mengubah cara pandang terhadap penelitian dengan menjadikan “kegelisahan ilmiah” sebagai titik awal lahirnya inovasi.

Menurut Prof. Enade, dosen muda umumnya dapat berada dalam dua posisi. Sebagian menjadi penerus kelompok riset yang telah mapan sehingga memiliki roadmap yang jelas untuk diikuti. Sebagian lainnya berada dalam lingkungan yang belum memiliki ekosistem penelitian yang kuat sehingga harus membangun arah penelitian secara mandiri. Kedua kondisi tersebut memiliki peluang dan tantangan masing-masing.

Ia menekankan bahwa keberhasilan membangun jejaring riset tidak hanya ditentukan oleh kompetensi teknis, tetapi juga kemampuan berkomunikasi dan menjalin hubungan profesional. Keahlian khusus akan menjadi nilai tambah dalam kolaborasi, sementara sikap terbuka, ramah, dan mampu bekerja sama akan memperkuat keberlanjutan jejaring akademik.

Prof. Enade menjelaskan bahwa penelitian yang baik berawal dari masalah nyata yang ingin diselesaikan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, sebelum menulis proposal, dosen perlu mengidentifikasi kegelisahan ilmiah yang relevan dan memiliki potensi dampak bagi masyarakat. Dari kegelisahan itulah roadmap penelitian kemudian dibangun secara bertahap dan berkesinambungan.

Ia juga mengingatkan agar dosen muda tidak terjebak pada penelitian rutin yang hanya mengulang pola lama dengan sedikit modifikasi objek penelitian. Menurutnya, banyak proposal masih sekadar mengganti lokasi penelitian atau bahan uji tanpa menawarkan kebaruan yang signifikan. Pendekatan semacam itu sulit menghasilkan dampak besar maupun menarik perhatian reviewer.

Sebagai alternatif, ia mendorong peserta untuk mulai mengadopsi perspektif yang lebih inovatif, termasuk menggeser fokus riset dari pendekatan pengobatan menuju pencegahan penyakit. Pendekatan preventif dinilai memiliki urgensi tinggi karena berkontribusi langsung pada peningkatan kualitas hidup masyarakat dan pengurangan beban kesehatan jangka panjang.

Pemanfaatan teknologi modern juga menjadi perhatian dalam paparannya. Menurut Prof. Enade, perkembangan teknologi komputasi, kecerdasan buatan, pemodelan molekuler, hingga basis data digital telah membuka peluang bagi peneliti untuk menghasilkan ide-ide yang lebih tajam tanpa harus selalu bergantung pada fasilitas laboratorium yang mahal. Teknologi tersebut dapat membantu peneliti memetakan peluang riset yang benar-benar baru dan menghindari pengulangan penelitian yang sudah banyak dilakukan.

Melalui workshop ini, para peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teknis mengenai penyusunan proposal hibah, tetapi juga memperoleh perspektif yang lebih luas mengenai peran dosen sebagai penggerak lahirnya inovasi. Integrasi antara gagasan penelitian yang kuat, penyusunan proposal yang sinkron, serta kepatuhan terhadap ketentuan administratif menjadi kunci utama keberhasilan memperoleh pendanaan.

Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan lebih banyak proposal penelitian yang berkualitas, relevan dengan kebutuhan bangsa, dan menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat. Dengan demikian, perguruan tinggi dapat semakin berperan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendukung peningkatan kesejahteraan sosial serta pembangunan ekonomi nasional.

[Wied]

(Foto: Widodo)

SLEMAN. Universitas Islam Indonesia (UII) terus memperkuat komitmennya dalam memajukan publikasi ilmiah dengan menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Akreditasi Jurnal Ilmiah bagi para pengelola jurnal. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 16 Rabiul Akhir 1447 H/9 Oktober 2025 di Ruang Sidang Datar, Lantai 2 Gedung Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII.

Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UII sebagai penyelenggara ingin memastikan bahwa pengelolaan jurnal tidak hanya fokus pada kualitas konten ilmiah, tetapi juga mencakup tata kelola manajerial yang profesional. Bimtek ini dirancang untuk memperdalam pemahaman pengelola jurnal terhadap standar akreditasi nasional dan internasional, sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi proses akreditasi melalui Sistem Arjuna (Akreditasi Jurnal Ilmiah).

Dalam sambutannya, Direktur DPPM UII, Prof. Ir. Eko Siswoyo, ST., M.Sc.Es., Ph.D., IPU, mengungkapkan rasa syukur atas adanya kemajuan pengelolaan jurnal di lingkungan UII. Ia menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan jurnal agar tidak terhenti seperti dua jurnal lama yang tak lagi terbit sejak 2003 dan 2008. “Jangan sampai ada jurnal yang nasibnya seperti rumah kosong,” pesannya, sembari mengingatkan tenggat 14 Oktober sebagai batas akhir pengajuan ke SINTA.

Prof. Eko juga berbagi pengalamannya saat menghadiri forum pengelola jurnal di UPN Veteran Jawa Timur, yang berhasil bangkit dari kondisi kurang terkelola menjadi jurnal yang kini diperhitungkan. Ia mengajak seluruh pengelola jurnal UII untuk memperkuat tata kelola agar mampu menjadi tujuan utama artikel-artikel berkualitas, sekaligus menunjang pengembangan karier akademik dosen.

Bertindak sebagai pemateri utama, Yuli Andriansyah, S.E., M.S.I, menyampaikan materi seputar strategi menuju akreditasi dan reakreditasi jurnal. Ia mendorong agar proses submit tidak ditunda, agar perbaikan bisa segera dilakukan jika ditemukan kekurangan. Diskusi interaktif dan simulasi pengisian borang Arjuna turut memperkuat pemahaman teknis para peserta.

Melalui Bimtek ini, UII berharap para pengelola jurnal semakin siap menghadapi tuntutan publikasi ilmiah global, mampu mengatasi kendala operasional, dan mengelola jurnal dengan arah kualitas yang lebih jelas dan berkelanjutan. (Wied)

Yuli Andriansyah (kiri) saat sampaikan materi Bimtek Akreditasi Jurnal ilmiah didampingi Roem Sybly selaku moderator (Foto: Widodo)

Dalam upaya meningkatkan kualitas publikasi ilmiah dosen dan peneliti, Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Workshop dan Klinik Jurnal Internasional 2025 pada Kamis, 15 Mei 2025 di Ruang Sidang DPPM UII. Acara ini menghadirkan dua pakar ternama di bidang publikasi ilmiah, Dr. Indri Dwi Aprilliyanti dari UGM dan Ganjar Fadillah, Ph.D., salah satu Editor in Chief Indonesian Journal of Chemical Analysis (IJCA) sekaligus ilmuwan top 2% dunia versi Stanford University.

Pentingnya Kesabaran dan “Jalan Langit” dalam Publikasi Ilmiah 

Acara dibuka oleh Prof. Ir. Eko Siswoyo, S.T., M.Sc.ES., Ph.D., IPU, mewakili Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik dan Riset UII, Prof. Dr. Jaka Nugraha, S.Si., M.Si., yang berhalangan hadir. Dalam sambutannya, Prof. Eko menekankan bahwa menulis jurnal internasional bereputasi membutuhkan kesabaran tinggi. “Artikel ditolak itu hal biasa. Selain kerja keras, ada faktor lucky yang perlu kita usahakan, termasuk dengan berdoa sebagai ‘jalan langit’,” ujarnya.

Moderator workshop, Prof. Dr. rer. soc. Masduki, S.Ag., M.Si., memandu diskusi yang berfokus pada strategi penulisan jurnal internasional, mulai dari kualitas data, metodologi, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).

Hindari Topik Terlalu Luas dan Pendekatan Tanpa Arah 

Dr. Indri Dwi Aprilliyanti, penulis artikel terindeks Scopus Q1, memaparkan tantangan utama peneliti dalam memulai penelitian. “Banyak yang terjebak pada ide terlalu luas tanpa fokus, sehingga sulit menentukan posisi penelitian dalam literatur yang ada,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan berbasis kasus tanpa topik yang jelas juga berisiko menghasilkan temuan tidak relevan. “Tidak cukup hanya mengidentifikasi fenomena. Anda harus mempersempitnya,” tegas Indri.

Ia membagikan langkah sistematis mengembangkan ide penelitian, termasuk mengenali tren topik terkini dan jenis-jenis kesenjangan penelitian,  seperti kesenjangan teoritis, fenomena, pengetahuan, dan empiris.

Alasan Penolakan Naskah dan Tips Menjadi Reviewer 

Indri juga membeberkan alasan umum penolakan naskah, antara lain:

  1. Cakupan terlalu luas atau sempit
  2. Kontribusi penelitian tidak jelas
  3. Landasan teori lemah
  4. Pembahasan terlalu deskriptif
  5. Klaim kontribusi tidak spesifik

Sebagai praktisi yang sering menjadi reviewer, ia memberikan kiat: “Saat mengevaluasi naskah, tanyakan: Apa poin paling menarik? Mengapa naskah ini layak ditolak? Jika harus memotong 40%, bagian mana yang dipertahankan?”

Pilih Topik Menarik dan Manfaatkan AI 

Pemateri kedua, Ganjar Fadillah, Ph.D., membahas pentingnya memilih topik yang menarik perhatian pembaca. “Judul dan keyword harus kuat. Gunakan software untuk melacak tren riset terkini,” sarannya.

Ia juga mendemonstrasikan penggunaan perangkat lunak pengolahan data dan analisis kompleks untuk meningkatkan kualitas penelitian. “Kualitas publikasi tidak instan. Butuh proses panjang, termasuk penggunaan AI untuk mempercepat penulisan tanpa mengorbankan orisinalitas,” ujarnya.

Coaching Clinic: Langsung Praktek dengan Ahli 

Setelah sesi pemaparan, peserta diajak mengikuti coaching clinic penulisan artikel yang dipandu langsung oleh Ganjar Fadillah, Prof. Masduki, dan Dr. Jaya Addin Linando, S.E., MBA. Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk berkonsultasi langsung terkait naskah yang sedang disusun.  (Wid.HP)

KOTAGEDE – Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) menciptakan inovasi baru berupa alat optimasi untuk mesin pembakar sampah atau insinerator. Inovasi ini dikembangkan oleh Abrar Radhitya Widyatmoko, Alvin Dhavi Juliano, Amin Sulaiman, dan Muhammad Syahdan Sigit Maulana, yang berasal program studi Teknik Lingkungan, Teknik Mesin, Teknik Industri, dan Teknik Kimia UII. Mereka tergabung dalam KKN UII Periode 70 Tematik Layanan Lansia Terintegrasi Kelurahan Purbayan, Kotagede.

Abrar menjelaskan bahwa ide pengembangan alat ini muncul setelah mereka menemukan bahwa hampir semua mesin insinerator masih memiliki kendala dalam menangani residu asap pembakaran. Asap yang tidak terkontrol dapat mengganggu kenyamanan masyarakat serta berpotensi membahayakan kesehatan. Oleh karena itu, mereka merancang cerobong tambahan yang dilengkapi sistem filtrasi guna mengurangi emisi berbahaya dari pembakaran sampah.

Alat ini memiliki konsep kerja yang sederhana namun efektif. Cerobong tambahan dirancang dengan arah belokan ke bawah, di mana pada bagian ujungnya terdapat dua filter karbon aktif yang berfungsi untuk menyaring asap. Prosesnya dimulai dengan asap dari pembakaran sampah yang masuk ke dalam cerobong, lalu melewati sistem filtrasi udara yang mengandung filter karbon aktif. Filter ini mampu menangkap zat berbahaya seperti dioksin, hidrogen sulfida, hidrogen klorida, amoniak, dan merkaptan dengan tingkat efisiensi hingga 99%. Setelah melalui proses penyaringan, udara yang lebih bersih dilepaskan kembali ke lingkungan.

Selain memberikan manfaat lingkungan, inovasi ini juga menjawab persoalan sosial dalam pengelolaan sampah. Sesuai peraturan pemerintah, sampah harus dikelola secara komunal dan tidak boleh lagi dibuang secara individu. Hal ini menimbulkan kendala biaya bagi masyarakat karena harus membayar jasa penggerobak sampah. Dengan adanya insinerator yang lebih ramah lingkungan, masyarakat dapat mengelola sampah secara mandiri dengan dampak pencemaran yang lebih rendah.

Pembuatan alat optimasi ini menggunakan bahan plat besi dengan estimasi biaya produksi sekitar Rp 700.000 per unit. Tim mahasiswa berharap alat ini dapat menjadi solusi bagi masyarakat dalam menangani pencemaran udara akibat pembakaran sampah. “Kami berharap alat ini bisa memberikan manfaat dan membantu masyarakat dalam mengelola sampah dengan lebih aman serta efisien,” kata Abrar.

Alat filtrasi ini diserahkan pada akhir pelaksanaan KKN UII Periode 70 Tematik LLT, tepatnya pada Kamis, 27 Februari 2025. Penyerahan dilakukan kepada Bapak Siswanto selaku Ketua Kampung Purbaya dan Pak Arif selaku Ketua RW 14 di TPS Kampung Purbayan. Warga setempat menyambut baik inovasi ini dan berharap mahasiswa KKN UII terus memberikan kontribusi nyata dalam pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan.

(Widodo HP)

Rektor UII meninjau stand Inovasi Alat Optimasi Mesin Pembakaran Sampah di Ekspo KKN UII Periode 70 Tematik LLT di Purbayan (Foto: Widodo)

UII Luncurkan Sekolah Lansia Pertama Berbasis Perguruan Tinggi di Indonesia

KOTAGEDE, (Yogyakarta).  Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) resmi meluncurkan Sekolah Lansia berbasis perguruan tinggi pertama di Indonesia. Peluncuran ini berlangsung di Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP) Bumen RW 06, Kelurahan Purbayan, Kemantren Kotagede, Kota Yogyakarta, Rabu (26/2/2025).

Sekolah Lansia ini hadir sebagai solusi bagi lebih dari 1.000 lansia yang tinggal di Kelurahan Purbayan, termasuk 58 lansia yang memerlukan pendampingan rutin untuk perawatan jangka panjang. Peluncuran simbolik dilakukan dengan pengalungan samir kepada dua siswa lansia oleh Rektor UII, Fathul Wahid, dan Kepala BKKBN DIY, Muhammad Iqbal Apriansyah, SH, MPH.

UII Menjadi Pionir Sekolah Lansia Berbasis Perguruan Tinggi

Dalam sambutannya, Rektor UII, Fathul Wahid, menegaskan bahwa keberadaan sekolah lansia ini merupakan bagian dari upaya perguruan tinggi dalam memahami potensi dan permasalahan sosial di masyarakat.

“Lansia ingin tetap mandiri dan tidak merepotkan orang lain. Jika ada ekosistem yang mendukung, maka semua orang dapat menua dengan nyaman karena merasa ada yang peduli,” ujar Fathul.

Fathul juga menekankan bahwa kebutuhan lansia akan interaksi sosial sangat penting. Ia berbagi pengalaman pribadinya saat masih tinggal di Bandung, di mana ia sering mengunjungi ibu kos hanya untuk mengobrol. “Saya tidak membawa oleh-oleh, tetapi saat pulang malah disangoni dan diberi kue. Lansia butuh teman ngobrol,” tambahnya.

Dukungan BKKBN dan Harapan Nasionalisasi Sekolah Lansia

Sementara itu, Kepala BKKBN DIY, Muhammad Iqbal Apriansyah, menjelaskan bahwa Sekolah Lansia Maharani ini menjadi sekolah lansia berbasis perguruan tinggi pertama di Indonesia dan diharapkan dapat menjadi contoh yang diterapkan secara nasional.

“Di DIY sudah ada 16 Sekolah Lansia berbasis APBN, APBD, dan komunitas. Namun, yang berbasis perguruan tinggi baru kali ini hadir di Kalurahan Purbayan. Kami akan mengampanyekan agar konsep ini bisa diterapkan di seluruh Indonesia,” kata Iqbal.

Iqbal menjelaskan bahwa Sekolah Lansia memiliki kurikulum yang terdiri dari 12 materi, yang akan diajarkan dalam 12 pertemuan. Umumnya, pertemuan diadakan sekali dalam sebulan. Dengan mengikuti sekolah ini, lansia mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan teman sebaya, yang mana di rumah mereka sering kali merasa kesepian karena anak dan cucunya memiliki kesibukan masing-masing.

“Berdasarkan pengalaman dari beberapa Sekolah Lansia, kondisi siswanya mengalami perubahan yang sangat positif. Mereka menjadi lebih ceria, lebih banyak berbicara, dan lebih terbuka. Bahkan secara fisik, mereka mulai aktif bergerak, karena dalam kurikulum terdapat materi olahraga seperti senam lansia,” jelas Iqbal.

Expo KKN Tematik dan Peran Mahasiswa UII dalam Pemberdayaan Lansia

Peluncuran Sekolah Lansia Maharani ini juga bertepatan dengan Expo KKN Tematik Pendampingan Layanan Lansia Terintegrasi (LLT). Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa UII dalam rangka Milad ke-82 universitas tersebut.

Fathul menjelaskan bahwa KKN Tematik UII telah menjangkau lebih dari 100 desa di enam hingga tujuh kabupaten di Jawa Tengah dan DIY. Dalam program ini, mahasiswa tidak hanya mengajar tetapi juga mengidentifikasi potensi dan masalah di setiap desa untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan.

“Kami selalu melihat desa sebagai mitra, bukan sebagai objek binaan. Kami ingin berkembang bersama masyarakat, dengan memahami potensi dan tantangan yang ada di desa tersebut,” ujar Fathul.

Harapan untuk Masa Depan Sekolah Lansia

Peluncuran Sekolah Lansia Maharani menjadi langkah awal bagi UII dalam membangun ekosistem yang ramah lansia. Dengan adanya dukungan dari perguruan tinggi dan pemerintah, diharapkan program ini dapat diperluas ke daerah lain di Indonesia.

“Kami berharap sekolah ini bisa menjadi model bagi daerah lain. Karena kita semua akan menjadi lansia suatu hari nanti, penting bagi kita untuk menyiapkan lingkungan yang peduli dan mendukung,” pungkas Fathul.

Dengan adanya Sekolah Lansia Maharani, diharapkan para lansia di Purbayan dan sekitarnya mendapatkan ruang untuk belajar, berbagi pengalaman, serta meningkatkan kualitas hidup mereka di usia senja.

(Widodo)

Foto:

Pengalungan samir dan tanda siswa Sekolah Lansia oleh Rektor UII kepada 2 orang perwakilan siswa Sekolah Lansia Maharani usia pemukulan gong (Foto: Widodo)

Yogyakarta, 30 Oktober 2024 – Universitas Islam Indonesia (UII) berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas publikasi ilmiah melalui penerapan standar pengelolaan jurnal yang tepat. Dalam rangka mendukung pengelolaan jurnal yang lebih baik, Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UII menggelar workshop bertajuk “Workshop Pengelolaan Jurnal bagi Pengelola Jurnal di UII”, Rabu, 30 Oktober 2024, di Ruang Sidang Datar Gedung Prof. Dr. Sardjito, UII

Ir. Eko Siswoyo, S.T., M.Sc.ES., Ph.D selaku direktur DPPM UII dalam sambutannya berharap agar melalui workshop tersebut peserta memperoleh pemahaman dan keterampilan yang lebih baik dalam meningkatkan kualitas pengelolaan jurnal sesuai dengan standar akreditasi nasional dan internasional, dapat membantu pengelola jurnal dalam hal menjaga mutu konten ilmiah, aspek manajemen, keamanan data, pengelolaan editorial serta keterampilan teknis yang dibutuhkan dalam pengelolaan publikasi ilmiah.

Dalam workshop ini, peserta mendapatkan materi terkait manajemen pengelolaan jurnal ilmiah, keterampilan teknis dalam pengelolaan editorial, dan metode untuk menyusun strategi peningkatan kualitas jurnal yang disampaikan oleh Ketua Tim Rumah Jurnal UII, Yuli Andriansyah, S.E., M.S.I., dan juga materi terkait manajemen keamanan data yang disampaikan oleh Ari Sujarwo, S.Kom., M.I.T. (Hons), Kepala Bidang Operasi Badan Sistem Informasi UII.

Dalam paparannya, Yuli Andriansyah juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan berbagai peran kunci, mulai dari Editor-in-Chief hingga Language Editor. Beberapa jurnal UII juga berlangganan alat khusus seperti Scopus dan ChatGPT untuk mendukung kinerja editorial. Hal ini mencerminkan komitmen UII dalam menghasilkan publikasi berkualitas.

Sementara untuk mendapatkan indeks Scopus, menurut Yuli Andriansyah jurnal harus memenuhi beberapa kriteria, termasuk konten peer-reviewed, penerbitan rutin, dan kehadiran pernyataan etika publikasi. Ciri khas lain adalah judul dan abstrak artikel harus disajikan dalam bahasa Inggris. Jurnal Millah: Journal of Religious Studies merupakan contoh yang telah memenuhi kriteria tersebut. Dengan penerapan proses peer-review ketat dan dukungan platform Open Journal Systems (OJS), Millah berkomitmen untuk meningkatkan kualitas publikasi akademik.

Sedangkan Ari Sujarwo banyak menjelaskan tentang layanan jurnal khusus melalui journal.uii.ac.id, penggunaan mesin web Open Journal System (OJS) versi 3,  standar keamanan informasi Cyber Security Maturity (CSM) dari BSSN dan juga mesin firewall UII dan WAF dari CloudFlare. Ari juga menyampaikan 3 unsur utama dalam manajemen keamanan informasi junral , yakni confidentiality dimana informasi hanya boleh dibaca oleh pihak-pihak berkepentingan (author, reviewer, editor), integrity yang menekankan validitas sumber data dan atau informasi, serta availability yang berkait erat dengan kemudahan dalam mengakses makalah/jurnal dan website.

Pada akhirnya standarisasi pengelolaan jurnal ini tidak hanya mendekatkan UII pada indeks Scopus, tetapi juga mendukung pengakuan internasional terhadap kontribusi akademiknya.

DPPM UII menargetkan setelah mengikuti workshop, pengelola jurnal diharapkan dapat memahami standar pengelolaan jurnal ilmiah, menerapkan manajemen keamanan data, menyusun strategi kualitas yang terarah, dan mampu mengidentifikasi serta menyelesaikan kendala operasional dalam pengelolaan jurnal.

Dengan inisiatif ini, UII berharap dapat mempertahankan dan meningkatkan posisi jurnal-jurnal yang dikelola di lingkungan kampus, sehingga dapat berkontribusi lebih besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia (WHP).

KALIURANG (DPPM UII). Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam mengelola sampah, terutama karena sebagian besar sistem pengelolaannya masih bergantung pada tempat pembuangan akhir (TPA) terbuka. TPA ini menjadi salah satu sumber utama emisi gas rumah kaca, khususnya metana, yang dampaknya terhadap pemanasan global 28 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida. Dalam Seminar Nasional yang digelar oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Islam Indonesia (UII) pada 16 Oktober 2024 di Gedung K.H.A. Wahid Hasyim, Dr. Novrizal Taher selaku Direktur Pengelolaan Sampah dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), menyampaikan bahwa untuk mengatasi masalah tersebut Indonesia telah menetapkan Kebijakan Strategi Nasional (Jakstranas) untuk menargetkan pengurangan sampah sebesar 30% dan penanganan sampah 70% pada 2025. Namun, data 2023 menunjukkan bahwa pengurangan sampah baru mencapai 13,67%, sedangkan penanganan sampah berada di angka 48,12%, yang masih jauh dari target yang diharapkan.

Salah satu fokus pemerintah untuk mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca adalah melalui komitmen dalam kerangka Paris Agreement. Indonesia telah menyusun Nationally Determined Contributions (NDC), yang bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 31,9% hingga 43,2% pada tahun 2030. Dalam upaya ini, pemerintah mendorong penerapan teknologi Waste-to-Energy (WTE) dan sistem daur ulang berkelanjutan sebagai strategi utama. Teknologi WTE yang telah diterapkan di beberapa kota besar, seperti Surabaya dan Solo, mengolah sampah menjadi sumber energi listrik. Diharapkan, langkah ini dapat memperbaiki pengelolaan sampah secara signifikan dan menurunkan emisi gas rumah kaca.

Pengelolaan sampah di Indonesia ke depan akan berfokus pada pendekatan ekonomi sirkular, di mana sampah diubah menjadi sumber energi dan bahan baku industri. Selain teknologi WTE, daur ulang juga diharapkan menjadi solusi yang lebih ramah lingkungan dalam jangka panjang. Pemerintah juga berupaya memperkuat regulasi terkait pemanfaatan teknologi hijau, terutama dalam mengurangi sampah plastik dari fase produksi hingga pengelolaan akhir. Dengan demikian, langkah-langkah ini diharapkan dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan memperlambat perubahan iklim.

Selain Dr. Novrizal Taher, panitia juga mengundang Oki Muraza, Ph.D selaku Senior Vice President, Research & Technology Innovation, PT. Pertamina yang diwakili Ismal Gamar. Dalam paparannya Ismal Gamar menyampaikan komitmen Pertamina untuk beralih ke energi yang lebih berkelanjutan dan mencapai net zero emission. Pertamina telah menetapkan dua visi utama: optimalisasi bisnis yang sudah ada serta pengembangan bisnis rendah karbon. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemanfaatan gas untuk industri petrokimia dan pengembangan ekosistem biofuel. Pertamina bekerja sama dengan Universitas Mulawarman untuk memanfaatkan tanaman lokal, seperti sorgum dan singkong, dalam produksi bioetanol, dengan kemurnian mencapai 99,7%. Kolaborasi teknologi ini juga melibatkan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk mendukung proses pemurnian bioetanol, yang diuji pada kendaraan dengan campuran bioetanol 20% hingga 100%.

Selain itu, Pertamina juga mengeksplorasi sumber energi terbarukan dari minyak nabati tanaman seperti nyamplung dan kepuh untuk bahan bakar terbarukan. Pertamina terus mengembangkan energi alternatif lainnya, seperti tenaga angin, matahari, dan panas bumi. Transformasi digital juga diterapkan untuk memantau dan meningkatkan efisiensi operasional perusahaan, sejalan dengan komitmen mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Dengan berbagai inovasi teknologi dan kolaborasi dengan perguruan tinggi serta lembaga riset, Pertamina berharap program bioenergi ini tidak hanya berkontribusi pada ketahanan energi nasional, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat, terutama petani lokal yang terlibat dalam pengembangan bioenergi tersebut. Pertamina optimis, langkah-langkah ini akan menciptakan masa depan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan bagi Indonesia.

Kegiatan yang dibuka secara langsung oleh Direktur DPPM UII, Ir. Eko Siswoyo, ST., M.Sc.Es., Ph.D mewakili Rektor UII usai penyampaian laporan dari ketua panitia penyelenggara yang juga Kepala Pusat Penelitian UII, Prof. Dr.rer.soc. Masduki, S.Ag., M.Si. tersebut diakhir dengan sesi tanya jawab dan presentasi makalah dari peserta seminar.

Keduanya pun berharap agar ajang seminar yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun tidak hanya dimanfaatkan untuk berbagi ilmu semata namun juga untuk membangun jejaring atau berkolaborasi. (Wid)

Foto:

Suasanaa tanya jawab dalam Seminar Nasional “Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan untuk Lingkungan Berkelanjutan” (Foto: Widodo)

Suasana saat Masduki menyampaikan materi: Cerdas Menulis Opini di Media, di ruang Adinata KBRI Singapura, Ahad 12 Mei 2024

(Singapura, 12 Mei) Universitas Islam Indonesia (UII), sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Indonesia, menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan jejaring internasional serta memberikan pelayanan pendidikan tinggi yang berkualitas bagi warga negara Indonesia melalui layanan pengajaran, penelitian, maupun pengabdian masyarakat.

Dalam upaya memperkuat kiprah di kancah internasional tersebut, UII telah menginisiasi program pengabdian masyarakat bagi diaspora Indonesia di Singapura dengan menggandeng Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Singapura. Skema program diwujudkan dalam serangkaian kegiatan, seperti diskusi terbatas dengan pihak Atdikbud KBRI Singapura, diskusi dengan berbagai komunitas diaspora Indonesia, penyelenggaraan workshop creative non-fiction writing  maupun studi lapangan ke komunitas diaspora Indonesia di Singapura. Diaspora Indonesia di Singapura sendiri saat ini jumlahnya sudah lebih dari 250.000 orang dengan beragam latar belakang profesi dan aktif dalam membangun bangsa sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.

Ir. Eko Siswoyo, S.T., M.Sc.ES., Ph.D, selaku Direktur DPPM UII dalam sambutannya menyampaikan bahwa secara garis besar kerjasama tersebut bertujuan untuk menjalin kolaborasi akademik antara UII dengan diaspora Indonesia serta universitas dan komunitas akademik di Singapura. Sedangkan tujuan lainnya adalah untuk menyusun program jangka pendek dan panjang dalam pendampingan Warga Negara Indonesia (WNI) di Singapura, maupun meningkatkan kemampuan komunikasi publik WNI diaspora Indonesia  dalam pengembangan keterampilan hidup yang bisa diintervensi oleh UII. Salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan adalah menyelenggarakan kegiatan workshop creative non-fiction writing yang dipandu oleh Prof. Dr.rer.soc. Masduki, S.Ag., M.Si.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut berbagai komunitas seperti Persatuan Pelajar Indonesia Singapura, Komunitas Muslim Indonesia Singapura, Persatuan Pelajar Universitas Terbuka Indonesia Singapura, Komisioner Pemberdayaan dan Kesetaraan Perempuan Indonesia, Komisioner Pekerja Migran Indonesia, dan Persatuan Sekolah Indonesia Singapura.

I Gusti Agung Ketut Satrya Wibawa (Atdikbud KBRI Singapura), menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada UII atas inisiasi program kerjasama tersebut. Beliau berharap agar kegiatan dapat berkelanjutan mengingat kompleksitas permasalahan yang dihadapi oleh Atdikbud KBRI dalam membina berbagai komunitas diaspora Indonesia di Singapura.

Keseluruhan kegiatan mendapat tanggapan positif dari para peserta, dan rencananya akan ditindaklanjuti dengan pembuatan Memorandum of Agreement (MOA) kerjasama, pembentukan kelompok kerja, dan pelatihan menulis di media secara online maupun offline.