DPPM dan Kemendiktisaintek Gelar Workshop Penulisan Proposal Hibah Nasional:
Dorong Dosen Muda Menghasilkan Riset Berdampak
KALIURANG (DPPM UII) Direktorat Bina Talenta Penelitian dan Pengembangan, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bekerja sama dengan Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Workshop Penulisan Proposal Hibah Nasional untuk Dosen Muda dan Vokasi Tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Audiovisual Lantai 4 Fakultas Hukum UII pada Kamis (8/10) tersebut diikuti oleh dosen dari berbagai perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Workshop ini menjadi wadah penguatan kapasitas bagi dosen muda dalam menyusun proposal penelitian yang berkualitas, kompetitif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Tidak hanya berisi paparan materi, kegiatan juga dilengkapi dengan sesi pendampingan yang membantu peserta mengembangkan ide penelitian menjadi proposal yang lebih sistematis dan siap diajukan pada program pendanaan nasional.
Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Yohanes Eko Adi Prasetyanto, S.Si. dan Prof. apt. Enade Perdana Istyastono, S.F., M.Sc., Ph.D., yang membagikan pengalaman serta strategi menyusun proposal hibah penelitian nasional agar memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh pendanaan.
Dalam sambutannya, Prof. Dr.rer.pol. Heri Kuswanto, S.Si., M.Si. dari Kemendiktisaintek menegaskan bahwa workshop ini dirancang secara strategis untuk mendampingi para peneliti muda dalam meningkatkan kualitas proposal penelitian mereka. Menurutnya, salah satu tantangan yang masih sering dihadapi para pengusul adalah kemampuan menerjemahkan gagasan penelitian ke dalam proposal yang memenuhi standar pendanaan nasional.
Ia juga menyampaikan optimisme terhadap perkembangan ekosistem riset nasional, termasuk peluang peningkatan anggaran penelitian serta pembukaan periode Call for Proposal berikutnya yang direncanakan berlangsung pada bulan November. Melalui berbagai program unggulan yang dikelola Direktorat Bina Talenta, para dosen muda diharapkan mampu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menghasilkan penelitian yang berdampak luas.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kewirausahaan UII, Prof. Ir. Eko Siswoyo, S.T., M.Sc.ES., Ph.D., IPU., menekankan pentingnya kegiatan pendampingan seperti ini bagi dosen muda. Menurutnya, kesempatan memperoleh arahan langsung dari para fasilitator berpengalaman dapat membantu peserta memahami berbagai aspek penilaian proposal sekaligus meningkatkan peluang lolos seleksi pendanaan.
Ia mengingatkan peserta untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan sungguh-sungguh dan memperhatikan setiap ketentuan administratif. Hal-hal yang tampak sederhana, seperti batas jumlah kata, format penulisan, maupun kelengkapan dokumen pendukung, sering kali menjadi penyebab kegagalan proposal pada tahap seleksi administratif. Mewakili Rektor UII yang sedang menjalankan tugas di Jakarta, Prof. Eko secara resmi membuka kegiatan dan berharap para peserta dapat meraih pendanaan hibah pada periode mendatang.
Pada sesi materi pertama, Dr. Yohanes Eko Adi Prasetyanto memaparkan topik bertajuk Strategi Penyusunan Proposal Penelitian yang Sinkron dan Berdampak: Dari Reorientasi Peran Dosen hingga Penyelarasan Hibah BIMA. Ia menjelaskan bahwa paradigma pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi saat ini mengalami perubahan mendasar. Jika sebelumnya aktivitas pengajaran sering dipandang sebagai tugas utama dosen sementara penelitian dianggap pelengkap, kini penelitian justru menjadi fondasi utama dalam menghasilkan pengetahuan baru.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak lagi cukup berfungsi sebagai institusi transfer pengetahuan, tetapi harus menjadi produsen pengetahuan melalui penelitian yang relevan dan berdampak. Temuan-temuan hasil riset kemudian diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran sehingga mahasiswa memperoleh wawasan yang lebih aktual dan berbasis bukti.
Perubahan tersebut sejalan dengan arah kebijakan Ditjen Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang menekankan konsep sains dan teknologi berdampak. Keberhasilan kebijakan ini antara lain diukur melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, serta meningkatnya peran perguruan tinggi Indonesia dalam berbagai indikator dampak global.
Dr. Yohanes menekankan bahwa salah satu kunci keberhasilan memperoleh hibah penelitian adalah sinkronisasi seluruh unsur proposal. Proposal yang baik tidak hanya memiliki ide menarik, tetapi juga memperlihatkan keterhubungan yang kuat antara rumusan masalah, tujuan penelitian, metodologi, kapasitas tim, anggaran, hingga referensi yang digunakan.
Menurutnya, ide penelitian harus menjadi pusat dari seluruh struktur proposal. Metodologi yang dipilih harus mampu menjawab masalah yang diangkat secara logis dan terukur. Selain itu, tim peneliti juga harus memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan penelitian. Sebagai contoh, penelitian yang mengembangkan media pembelajaran berbasis teknologi informasi seharusnya melibatkan anggota tim yang memiliki keahlian di bidang pemrograman atau teknologi komputer.
Ia juga menyoroti pentingnya kesesuaian antara rencana anggaran dan metodologi penelitian. Setiap komponen biaya harus memiliki keterkaitan yang jelas dengan aktivitas penelitian. Pos anggaran yang tidak memiliki landasan dalam metodologi sering kali menjadi perhatian penelaah dan berpotensi menurunkan kualitas proposal.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah integrasi antara tinjauan pustaka, state of the art, dan roadmap penelitian. Tinjauan pustaka perlu menunjukkan posisi penelitian yang diusulkan dibandingkan penelitian sebelumnya, sekaligus menggambarkan rekam jejak peneliti serta arah pengembangan penelitian di masa depan.
Lebih lanjut, Dr. Yohanes mengingatkan bahwa pengembangan ide penelitian harus diselaraskan dengan prioritas pembangunan nasional. Bidang-bidang strategis seperti pangan, kesehatan, energi, maritim, pertahanan, kecerdasan buatan dan semikonduktor, manufaktur dan material maju, serta hilirisasi dan industrialisasi menjadi fokus utama dalam berbagai skema pendanaan riset nasional. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa hampir semua disiplin ilmu memiliki peluang untuk berkontribusi pada salah satu atau lebih bidang prioritas tersebut.
Dalam kesempatan itu, ia juga menguraikan tingginya tingkat persaingan pada pengajuan proposal melalui portal BIMA. Jumlah proposal yang masuk setiap tahun mencapai puluhan ribu, sementara banyak di antaranya gagal pada tahap seleksi administrasi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kualitas administratif memiliki peran yang sama pentingnya dengan kualitas substansi penelitian.
Karena itu, para pengusul disarankan tidak menunggu hingga batas akhir pengajuan. Pengunggahan proposal sejak jauh hari memberi kesempatan untuk melakukan pengecekan ulang sekaligus memperoleh masukan dari mentor maupun kolega sebelum proposal dikirimkan.
Sesi berikutnya disampaikan oleh Prof. Enade Perdana Istyastono yang mengangkat tema pengembangan roadmap penelitian dan strategi membangun karier riset bagi dosen pemula. Dalam paparannya, ia mengajak peserta mengubah cara pandang terhadap penelitian dengan menjadikan “kegelisahan ilmiah” sebagai titik awal lahirnya inovasi.
Menurut Prof. Enade, dosen muda umumnya dapat berada dalam dua posisi. Sebagian menjadi penerus kelompok riset yang telah mapan sehingga memiliki roadmap yang jelas untuk diikuti. Sebagian lainnya berada dalam lingkungan yang belum memiliki ekosistem penelitian yang kuat sehingga harus membangun arah penelitian secara mandiri. Kedua kondisi tersebut memiliki peluang dan tantangan masing-masing.
Ia menekankan bahwa keberhasilan membangun jejaring riset tidak hanya ditentukan oleh kompetensi teknis, tetapi juga kemampuan berkomunikasi dan menjalin hubungan profesional. Keahlian khusus akan menjadi nilai tambah dalam kolaborasi, sementara sikap terbuka, ramah, dan mampu bekerja sama akan memperkuat keberlanjutan jejaring akademik.
Prof. Enade menjelaskan bahwa penelitian yang baik berawal dari masalah nyata yang ingin diselesaikan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, sebelum menulis proposal, dosen perlu mengidentifikasi kegelisahan ilmiah yang relevan dan memiliki potensi dampak bagi masyarakat. Dari kegelisahan itulah roadmap penelitian kemudian dibangun secara bertahap dan berkesinambungan.
Ia juga mengingatkan agar dosen muda tidak terjebak pada penelitian rutin yang hanya mengulang pola lama dengan sedikit modifikasi objek penelitian. Menurutnya, banyak proposal masih sekadar mengganti lokasi penelitian atau bahan uji tanpa menawarkan kebaruan yang signifikan. Pendekatan semacam itu sulit menghasilkan dampak besar maupun menarik perhatian reviewer.
Sebagai alternatif, ia mendorong peserta untuk mulai mengadopsi perspektif yang lebih inovatif, termasuk menggeser fokus riset dari pendekatan pengobatan menuju pencegahan penyakit. Pendekatan preventif dinilai memiliki urgensi tinggi karena berkontribusi langsung pada peningkatan kualitas hidup masyarakat dan pengurangan beban kesehatan jangka panjang.
Pemanfaatan teknologi modern juga menjadi perhatian dalam paparannya. Menurut Prof. Enade, perkembangan teknologi komputasi, kecerdasan buatan, pemodelan molekuler, hingga basis data digital telah membuka peluang bagi peneliti untuk menghasilkan ide-ide yang lebih tajam tanpa harus selalu bergantung pada fasilitas laboratorium yang mahal. Teknologi tersebut dapat membantu peneliti memetakan peluang riset yang benar-benar baru dan menghindari pengulangan penelitian yang sudah banyak dilakukan.
Melalui workshop ini, para peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teknis mengenai penyusunan proposal hibah, tetapi juga memperoleh perspektif yang lebih luas mengenai peran dosen sebagai penggerak lahirnya inovasi. Integrasi antara gagasan penelitian yang kuat, penyusunan proposal yang sinkron, serta kepatuhan terhadap ketentuan administratif menjadi kunci utama keberhasilan memperoleh pendanaan.
Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan lebih banyak proposal penelitian yang berkualitas, relevan dengan kebutuhan bangsa, dan menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat. Dengan demikian, perguruan tinggi dapat semakin berperan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendukung peningkatan kesejahteraan sosial serta pembangunan ekonomi nasional.
[Wied]

(Foto: Widodo)