DPPM Gelar Diskusi Peluang Hibab Riset Internasional
DPPM Gelar Diskusi Peluang Hibab Riset Internasional
KALIURANG (DPPM UII) Upaya memperkuat kolaborasi riset dan inovasi di kawasan Asia Tenggara terus didorong melalui sosialisasi peluang pendanaan internasional. Pada hari ini, Rabu, 14 Oktober 2026, telah diselenggarakan sesi diskusi daring bertajuk Diskusi Peluang Hibah Riset Internasional – ASTIF Call 2026. Acara yang berlangsung pukul 08.00 hingga 09.30 WIB melalui platform Zoom Meeting ini menghadirkan Prof. Dr. Masdalina Pane selaku National COSTI Focal Point Indonesia dari Committee on Science, Technology and Innovation (COSTI) ASEAN sebagai narasumber utama.
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kewirausahaan UII, Prof. Ir. Eko Siswoyo, ST., M.Sc.ES., Ph.D., IPU., membuka acara secara resmi. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya akselerasi keterlibatan akademisi dalam skema riset berskala global.
Prof. Dr. Masdalina Pane sendiri dalam pemaparannya menyampaikan panduan lengkap pengajuan proposal riset dan inovasi ASEAN Science, Technology and Innovation Fund (ASTIF) 2026. Program ini menjadi peluang emas bagi universitas maupun lembaga riset di wilayah ASEAN untuk mengembangkan kolaborasi riset berbasis Artificial Intelligence (AI) dan teknologi tinggi lainnya secara lintas sektor. Mengacu pada kerangka kerja strategis APASTI 2026–2035, fokus utama pendanaan ini mencakup pengembangan solusi AI lintas sektor, kolaborasi multinegara ASEAN, pemanfaatan infrastruktur bersama seperti supercomputer, serta penciptaan dampak nyata bagi kawasan regional.
Terdapat empat kategori prioritas yang ditawarkan, yaitu integrasi AI untuk kesehatan, bioekonomi, dan ketahanan pangan; AI untuk kecerdasan antariksa, bumi, laut, dan iklim; AI untuk material maju dan transisi energi; serta AI untuk produktivitas UMKM dan pengembangan tenaga kerja. ASTIF memberikan pendanaan untuk riset kolaboratif, pengujian demonstrasi teknologi (Proof of Concept), hingga penguatan sistem data bersama. Skema pengajuan proposal terbagi menjadi dua jalur utama, yakni Open Competitive Call Track yang terbuka untuk lembaga riset, perguruan tinggi, swasta, maupun NGO terdaftar, serta COSTI Sub-Committee Track yang diperuntukkan khusus bagi entitas focal point nasional.
Ketentuan kelayakan mengharuskan pemohon berupa institusi terdaftar secara legal, bukan perorangan, dengan keterlibatan minimal dua negara anggota ASEAN dalam satu tim proyek. Durasi pelaksanaan proyek dirancang maksimal selama 24 bulan tanpa batas nominal anggaran yang kaku, selama alokasi biaya disusun secara rasional. Komponen yang eligible mencakup biaya perjalanan, operasional staf riset baru, dan peralatan riset, sedangkan biaya publikasi jurnal serta gaji peneliti tetap tidak dapat didanai. Pengajuan proposal tahap awal berlangsung hingga pertengahan Oktober, diikuti evaluasi ketat sebelum pengumuman proyek terpilih pada pertengahan Februari mendatang. Melalui kegiatan sosialisasi ini, para peneliti Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan peluang pendanaan ASTIF Call 2026 secara optimal guna menciptakan inovasi berdampak luas di tingkat ASEAN.
Wied

(Foto: Widodo)


